Oleh : Dede Maulana Yusuf
Manusia punya kekurangan dan punya kelebihan, maka sudah dipastikan akan saling membutuhkan satu sama lain. Sekalipun karakter bangsa berbeda, tidak menghalangi niat baik untuk saling menguntungkan.

Seperti halnya Indonesia dan Brasil. Perbedaan 180 derajat tidak membuat kedua negara berjarak dalam hal sepak bola. Sepak bola Brasil diakui dunia sebagai pencetak pemain muda, tuahnya diharap bisa membawa perubahan bagi persaingan liga.
Pemain Brasil sering nangkring di peringkat pemain top liga, mereka berhasil mengukir prestasi pribadi, dan mengukir prestasi klub di tanah rantauan.
Pelatih dari Brasil juga banyak yang melatih klub Indonesia. Mereka tidak hanya menghidupkan persaingan liga, tetapi juga menghidupkan permainan samba di bawah panji Erik Tohir.
Contoh Persija, pelatih dan pemain diisi pemain-pemain dari Brasil. Skil individu dan permainan agresifnya begitu mencolok dalam permainan Persija. Klub ini menjadi salah satu tim yang produktif membobol gawang lawan, melalui pemain asing Alan Maxwel dari Brasil, mencatatkan 11 gol. Terlepas dari peraturan membolehkan memakai 11 pemain asing, pemain tanah samba telah bersemi di liga Indonesia.
Pemain asal Brasil, begitu sangat berkibar dikancah sepak bola Indonesia. Kemampuan adaptasi yang tinggi, membuat skillnya cocok untuk kebutuhan tim. Mereka menjamur di berbagai posisi, lengkap dengan atribut skill individu. Pelatih hanya tinggal memoles sedikit saja, permainan ala samba yang penuh determinasi tinggi tersaji di tengah lapangan.
Sistem industri sepak bola yang belum maju, membuat tuntutan manajemen klub pada pemain begitu tinggi. Kita bisa lihat, pemain lokal perlahan tersisihkan oleh pemain asing. Liga indonesia tidak seperti Eropa, sekalipun tuntutan begitu tinggi, tidak serta merta menyisihkan pemain lokal secara ugal-ugalan.
Sepak bola eropa menawarkan kualitas tontonan, penonton aman datang ke stadion, dan penonton di layar kaca tidak harus ribet membayar TV berlangganan jika ingin menonton sepak bola lokal.
Karir pesepak bola tetap aman, contohnya seperti Luca Modric, dengan usia yang tidak muda lagi, tetap mampu menunjukkan penampilan terbaiknya di dalam tim. Sepak bola eropa tetap menjamin filosofi permainan, karena industri yang berkualitas.
Sedangkan klub Indonesia sebaliknya, tidak mau ribet, terutama dengan taktik permainan di lapangan, cukup ada pelatih, sepak bola yang penting jalan.
Hal itu memicu pemain dengan skill yang unggul lebih disukai dari pada pemain yang bermental petarung dan memiliki pemahaman sepak bola yang dalam. Pemain dengan skill individu selalu menjadi prioritas dalam sebuah permainan ala liga indonesia.
Jika menginginkan kemampuan mencetak gol layaknya bintang eropa, pemain Brasil di liga Indonesia juga bisa melakukannya. Skill mereka tidak kalah dibanding Neymar atau pun Vinicius junior. Bermain indah ala jogo bonito, gocek sana gocek sini, mendribel bola melewati hadangan lawan, sepak bola Indonesia seperti itu lah adanya.
Keinginan klub meraih prestasi dengan memanfaatkan pemain Brasil tidak lah salah, mereka juga tidak kalah berkualitas. Di balik kontribusinya untuk klub saat ini, mereka juga telah melewati banyak ujian dan tantangan sebelum bertanding untuk klub liga indonesia, mungkin pertandingan liga Indonesia bagi mereka seperti permainan biasa.
Selain skill yang ciamik, pemain dari Brasil sangat cepat beradaptasi di kultur sepak bola yang hanya membutuhkan menang, terutama klub liga indonesia.
Pemain Brasil saat ini sudah banyak memiliki skill tambahan dalam tradisi sepak bola indonesia, bermain dengan emosi yang tinggi. Mereka saat ini terbiasa dengan suasana keributan di tengah lapangan.
Masyarakat Indonesia yang cenderung terbuka mungkin ikut membantu pemain menjalani hidup nyaman sebagai masyarakat biasa, terutama dalam menjalani keseharian diluar lapangan, suasana hangat dan akrab khas orang Indonesia.
Mengajak pemain berfoto Selvi, menegur atau memanggil dan memuji dari para suporter bola Indonesia mungkin tidak mereka dapat di negara lain. Mereka betah bermain, bahkan tidak jarang memilih menjadi warga Indonesia.
Keputusannya memilih pindah kependudukan menjadi warga negara di negeri yang penuh ketidakpastian seperti indonesia, merupakan pilihan yang sangat amat luar biasa. Seorang pesepak bola asing hidup di negara yang belum menganggap sepak bola sebagai pekerjaan sangat layak disebut super, super, cintanya tulus melebihi masyarakat asli.
Posisi penyerang, kiper, gelandang/sayap, lengkap diisi pemain Brasil. Mereka dengan nyaman menuangkan skill dan kemampuannya. Menari-nari di atas lapangan hijau yang penuh dengan sorakan dan tekanan khas Indonesia serasa menjadi pertunjukan sepak bola adalah panggung cemoohan bagi lawan yang kalah.
Saking menjamurnya mereka, orang Indonesia tidak kebagian tempat, terutama posisi striker. Klub banyak dihuni pemain Brasil berdampak pada jumlah pemain timnas Indonesia. Pemain lokal bernaluri membunuh, striker yang tidak egois, dan pintar memanfaatkan ruang sangat amat sulit didapat. Saat ini mencari striker lokal yang tajam di liga sendiri seperti mencari berlian di tengah hamparan sawit Prabowo (sulit sekali didapatkan).














