Oleh : Dede Maulana Yusuf
Bagi negara yang berkeinginan mandiri dari segala-galanya seperti misalnya Indonesia, tahun ini menjadi era yang krusial di tubuh pemerintahan Prabowo Subianto. Di sana-sini dia selalu mengatakan, Indonesia akan mencapai kemandirian ekonomi dengan swasembada pangan dan strategi kebijakan lain macam program MBG, Sekolah Rakyat, dan Koperasi Merah Putih.

Tak tanggung-tanggung biaya yang digelontorkan pemerintah, ratusan triliun rupiah dibakar habis untuk menghidupkan harapan bisa berdikari. Tapi keadaannya sekarang nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan, bahkan ini adalah yang paling besar sepanjang sejarah republik ini berdiri.
Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk program MBG sebesar Rp335 triliun, kemudian Rp34,57 triliun untuk program Koperasi Merah Putih, dan Rp24,9 triliun untuk Sekolah Rakyat. Jika diglobalkan, total keseluruhannya sekitar Rp394,47 triliun ; habis untuk hal yang tidak produktif.
Sedangkan investasi dalam negeri tak kunjung nampak. Jangankan mengharap industri lokal bisa naik level, industri global pun tidak ada yang mau mengembangkan investasinya untuk menyerap tenaga kerja Indonesia.
Melihat jumlah pengangguran di Indonesia yang mencapai 4,68 persen, atau setara 7,24 juta orang itu ; hampir setara dengan jumlah penduduk Lampung saat ini. Kondisi ini akan membuat negara ini pusing tujuh keliling termakan kata-kata Prabowo yang semakin lama, makin tak jelas.
Keamanan dan ketertiban masyarakat akan terganggu, mengingat angka pengangguran yang banyak dan berpotensi membuat masyarakat bertindak kriminal, karena tidak punya penghasilan tetap.
Tingginya angka pengangguran di tengah melemahnya nilai tukar rupiah menghidupkan keragu-raguan ; apakah mungkin rakyat Indonesia bisa bertahan hidup di tengah kurs dolar yang terus meningkat?
Saat ini yang sudah dirasakan ; harga bahan bakar minyak mengalami peningkatan, harga keperluan industri juga ikut naik, bahkan informasi terbaru, harga suku cadang otomotif juga mulai mengalami peningkatan, belum lagi elektronik yang belum diberitakan media. Kira-kira besok, apa lagi yang akan ikut naik?
Penulis merasa heran, Prabowo kerap bepergian keluar negeri belakangan ini dapat apa? Apa yang dia lakukan selain menenteng map dari Trump? Konyol!
Sedangkan sejauh ini, kepemimpinannya sudah berjalan 2 tahun. Alih-alih menambah prestasi pemerintah, justru indeks penurunan berbagai aspek di era pemerintahannya malah meroket. Terutama indikator yang berhubungan dengan perekonomian.
Indonesia akan mencapai pertumbuhan ekonomi melebihi pemerintahan sebelumnya, katanya. Tapi nyatanya, tidak ada yang berubah sama sekali. Pemerintah melalui bendahara negara hanya menyampaikan retorika yang tak pasti, sedangkan kebutuhan masyarakat terus berjalan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Tidak sedikit yang memperkirakan bahaya besar sedang menanti di depan mata, bahkan krisis ekonomi bisa saja terulang. Demo pecah di mana-mana, dan rezimnya bisa hancur seketika akibat salah urus.
Kritik terus bermunculan di sana-sini mempertanyakan kinerja Prabowo selama ini. Dia malah dengan bangga mengucap kalimat blunder : “Jangan khawatir dolar naik. Di desa tidak pakai dolar”. Duh, duh..
Entah apa maksudnya. Tapi sekelas kepala negara berkata seperti itu justru mengiris-iris hati rakyat. Mempertontonkan kebodohan bernalar, hingga menyisakan kejanggalan tentang betapa rendahnya kualitas SDM seorang kepala negara.
Bagaimana kinerja Prabowo dalam memimpin dan mengatur ekonomi indonesia, sedangkan dia hanya selalu mendengungkan MBG, koperasi, dan sekolah rakyat dengan segala resiko yang sudah mulai bermunculan di mana-mana.
Kebijakan pengalihan anggaran atau yang disebut efisiensi demi membiayai programnya yang terbaru, justru membuka celah korupsi yang bisa dilakukan bawahannya. Sedangkan rakyatnya bak sebuah pendulum ; terombang-ambing tak jelas arah masa depannya.
Kebijakkan Prabowo cenderung spekulatif dan begitu nampak membela kepentingan para elit yang ada di sekelilingnya. Misalnya soal kebun sawit dan tambang yang tidak hanya menggunduli hutan, tapi juga menciptakan kerusakan lingkungan yang parah.
Tidak merencanakan sesuatu yang prioritas sekarang menjadi titik balik. Pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya berharap kemurahan hati negara maju, agar mau menanamkan investasi ke negeri badut rezim Prabowo.
Berharap Amerika dan Iran bisa berdamai agar harga minyak bisa ikut turun, itu adalah isu untuk menutupi ketidakmampuan negara mengembangkan kemandirian energi, atau mengontrol tatanan hidup masyarakat yang semakin individual.
Mendorong produktivitas rakyat yang harus mandiri, karena kebijakan pemerintah adalah harga mati yang harus dituntaskan di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto.
“Ikan enggak perlu beli, tinggal ambil di kolam. Mau ngopi tinggal petik. Begitulah gambaran kehidupan desa. Masih banyak orang tulus tinggal main ke tempat tetangga, enggak perlu harus pergi ke tempat rekreasi yang mahal buatan manusia, cukup ke depan rumah ada pemandangan gunung bagus,” kata Prabowo di salah satu pidatonya.
Apa yang dia katakan tak sepenuhnya salah. Di desa memang tidak pakai dolar sebagai alat tukar. Tapi yang harus diketahui masyarakat, harga kebutuhan pokok tidak lama lagi akan ikut naik secara serentak, jika nilai tukar rupiah terus melemah. Sebab, apa yang kita pakai dan makan hari ini, sebagian besar didatangkan dari luar negeri.














