Oleh : Dede Maulana Yusuf
Hal mengejutkan terjadi di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kandang Persib Bandung. Tim tuan rumah yang selalu tampil tanpa kebobolan, kali ini harus mengakui ketajaman pasukan Tridatu Bali United di babak ke dua.

Tim tamu dengan membabi buta menghantam terus menerus pertahanan Persib Bandung, hingga Teja Paku Alam terlihat tertunduk, tidak percaya gawangnya harus dibobol dua kali.
Karakter khas permainan Persib Bandung yang memiliki pertahanan paling kuat di liga 1 Indonesia saat ini, tadi malam harus ternoda dengan kerja keras tanpa henti yang ditunjukkan para pemain Bali United.
Mereka tanpa ragu mengepung pertahanan Persib dan mengacak-ngacak pertahanan menggunakan kecepatan individu. Padahal dari segi kerjasama tim, sebenarnya tamunya itu tidak lebih baik dari penampilan tuan rumah.
Dalam permainan bola apapun memang bisa saja terjadi. Persib Bandung bermain kurang tenang hingga kehilangan bola, para pemain seakan masuk angin ketika bermain di tengah hujan yang deras, mereka kesulitan mengendalikan permainan seperti di babak pertama.
Seharusnya, Persib Bandung bermain tangguh, apalagi ketika bermain di kandang sendiri. Tadi malam, pemain Persib berusaha sekuat tenaga untuk menguasai bola lebih lama, guna membalikkan tekanan yang dilancarkan bertubi-tubi oleh para pemain Bali.
Persib bisa saja memanfaatkan kelebihan Berguinho, untuk melakukan serangan mematikan, seperti ketika menghancurkan Persebaya Surabaya.
Persib Bandung memang berhasil mengamankan tiga poinnya di kandang, namun dari segi permainan seakan kehilangan arah. Pemain tampil kurang meyakinkan, tim bertabur bintang seperti kehilangan cara untuk melakukan perlawanan dengan gagah perkasa, seperti yang biasa mereka tampilkan sebelumnya.
Permainan semalam menggagalkan rekor clean sheet Teja Paku Alam, untuk menyamai catatan kiper Persipura dengan 17 kali tanpa kebobolan, dalam 1 musim.
Sebagai tim yang tidak terkalahkan di kandang, seakan dipecundangi oleh permainan Bali United yang bermain tanpa beban. Walaupun hasil akhir Persib Bandung menang 3-2 atas Bali United, tetapi banyak catatan yang harus diperbaiki.
Ketika membendung gempuran tamunya, para pemain Persib terlihat hanya mengandalkan otot di lapangan. Permainan seperti itulah yang membuat pemain Bali leluasa meliuk-liuk membawa bola, menghantam pemain Persib yang fokus bertahan tetapi tidak karuan.
Pertahanan Maung Bandung mengalami chaos hingga menimbulkan kemelut di muka gawang dalam kotak penalti. Gol kedua lahir dari kemelut dalam kotak penalti, untuk memperkecil skor atas Persib Bandung.
Permainan pantang menyerah anak-anak Bali United begitu sporadis, hingga membuat sang kiper Teja harus mengatur pernafasan untuk menghalau setiap tembakan yang diarahkan kepadanya. Namun beruntung, penyelesaian akhir anak-anak Bali masih sering tidak tepat sasaran.
Persib Bandung berupaya melakukan pergantian beberapa kali di bagian belakang, untuk mempertahankan permainan. Tetapi dampaknya tidak begitu terlihat, para pemain yang baru diturunkan justru terbawa alur permainan yang diciptakan pemain Bali.
Mereka habis-habisan berlari kesana kemari hingga menggulingkan badan, karena kerepotan menghadang serbuan para pemain Bali, yang tampil seperti kesetanan untuk mengejar ketertinggalan angka dari Persib Bandung.
Agar bisa keluar dari tekanan sebenarnya, Persib Bandung bisa memaksimalkan aksi individu untuk menggedor serbuan para pemain Bali united. Hanya saja, pemain lebih sering melakukan pelanggaran di areal pertahanannya sendiri.
Persib Bandung yang selalu bermain dengan mental juaranya, malam tadi secara permainan hampir dilumat habis oleh Bali United, tidak seperti ketika bermain melawan Arema FC, yang bisa membalikkan keadaan saat bermain dengan sepuluh pemain.
Biasanya, Persib akan menekan habis-habisan saat bermain dengan sepuluh pemain. Karena secara filosofi permainan, Persib bandung mengendalikan permainan, bukan malah mereka yang dikendalikan lawan. Tetapi malam tadi hampir dilindas tamunya, dan beruntungnya, sisa-sisa tenaga yang terkuras masih bisa menyelamatkan muka dari kekalahan.














