Oleh: Dr. Agus Muhammad Septiana, S.IP., M.H
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro
Ada hal menarik dari perbincangan saya dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti, saat kunjungan revitalisasi sekolah di SD Negeri 5 Metro Timur dan SMPN 9 Metro, 8 Oktober 2026.

Di tengah kegiatan tinjauannya itu, beliau menegaskan satu hal: tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan hanya soal angka akademik, melainkan bagaimana menanamkan karakter di tengah derasnya arus informasi global yang tanpa filter dan tanpa batas. Dan salah satu laboratorium paling efektif untuk itu, kata beliau, justru ada dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ya, MBG. Program unggulan Presiden Prabowo yang selama ini kita lihat sebagai intervensi gizi, ternyata menyimpan potensi besar sebagai instrumen pendidikan karakter.
Selama ini kita memaknai MBG sebatas piring makan bergizi. Padahal, di Kota Metro, kami mencoba mendesainnya lebih jauh: menjadikan momen makan bersama sebagai “laboratorium sosial”. Di sanalah karakter diuji dan dibentuk, bukan dihafal di papan tulis.
Landasannya jelas. Teori Pembelajaran Sosial Albert Bandura menyebut karakter dipelajari lewat keteladanan. Thomas Lickona menegaskan, karakter harus menyentuh tiga ranah: moral knowing, moral feeling, dan moral action. MBG menyediakan ketiganya sekaligus.
Bagaimana kami menerapkannya di Metro?
Pertama, menumbuhkan toleran dan saling menghormati. Saat MBG, semua siswa duduk di meja yang sama, menyantap menu yang sama, tanpa sekat latar belakang sosial dan ekonomi. Batas perbedaan mencair. Mereka belajar menghargai perbedaan selera, menghormati teman, dan berempati.
Kedua, membangun disiplin dan tanggung jawab. Karakter disiplin tidak lahir dari ceramah. Ia lahir dari antre. Antre cuci tangan, antre ambil makanan, tepat waktu saat doa bersama. Tanggung jawab lahir setelah makan: membersihkan wadah sendiri, memilah sampah, mengembalikan peralatan ke tempatnya. Sederhana, tapi melatih kepedulian.
Ketiga, membiasakan Three Magic Words. Inilah yang paling krusial. Kami mewajibkan pembiasaan tiga kata ajaib dalam setiap interaksi MBG:
– Mohon Maaf, ketika tak sengaja menyenggol teman saat antre.
– Silakan, saat memberi kesempatan teman mengambil makanan lebih dulu.
– Terima Kasih, kepada petugas penyaji, guru, dan teman yang membantu.
Kata-kata kecil yang dampaknya besar untuk membangun budaya santun.
Oleh karena itu, MBG di Kota Metro tidak boleh berhenti pada indikator kenyang dan bergizi. Kami mendorong tiga langkah konkret:
1. Sekolah menyusun SOP MBG Berbasis Karakter yang mengatur adab dan interaksi sosial.
2. Guru wajib makan bersama siswa. Guru harus menjadi role model, bukan hanya pengawas.
3. Sekolah memberi penguatan positif bagi kelas yang paling disiplin dan bersih dalam pelaksanaan MBG.
Pada akhirnya, Program Makan Bergizi Gratis memiliki fungsi ganda: menguatkan raga sekaligus membentuk jiwa. Dari ruang makan sekolah inilah kita sedang menyiapkan Generasi Emas Indonesia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.














