InfoPresisi, Lampung Barat – Siswa kelas XI-1 MA Yapsi Sumberjaya, Lampung Barat, berinovasi memanfaatkan media audiovisual sebagai sarana belajar, dengan menonton film sejarah Islam di ruang kelas pada jam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Rabu, 23/9/2026.
Langkah ini diambil sebagai strategi penyegaran di sela-sela padatnya kurikulum akademik, sekaligus untuk mendongkrak motivasi dan stimulasi berpikir kritis siswa.

Film berdurasi sekitar satu jam tersebut memotret fase krusial perjuangan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam menyebarkan agama Islam. Di dalamnya, digambarkan betapa beratnya tantangan yang dihadapi Rasulullah, terutama penolakan masif dari kaum kafir Quraisy yang menentang kebenaran wahyu Al-Qur’an.
Melalui visualisasi ini, siswa yang memiliki keterbatasan dalam menganalisis teks literatur dapat terbantu untuk memahami konteks sejarah secara lebih mudah.
Wali Kelas XI-1, Titis Zulaiha, mengungkapkan, para siswa sangat antusias mengikuti metode pembelajaran variatif ini. Menurutnya, pemutaran film menjadi instrumen efektif untuk membangun imajinasi siswa tanpa keluar dari esensi materi. Sebelum pemutaran dimulai, guru pengampu telah memetakan poin-poin penting agar pemahaman siswa tetap selaras dengan tujuan pembelajaran.
“Melalui narasi visual, siswa lebih mudah memetik hikmah dari cerita. Perjuangan Nabi Muhammad dalam menegakkan Islam dinilai sangat relevan dengan kondisi siswa saat ini yang sedang berjuang menumbuhkan budaya belajar dalam diri mereka sendiri,” ujar Titis.
Lebih lanjut, Titis berharap metode ini dapat menyadarkan siswa akan pentingnya ilmu sebagai bekal masa depan. Dengan menghayati perjalanan Rasulullah, siswa diharapkan mampu menjadikan Baginda Nabi sebagai tolak ukur (role model), terutama dalam mengemban misi pribadi untuk memberantas kebodohan.
Sebagai tindak lanjut akademik, guru SKI tidak hanya meminta siswa menonton, tetapi juga memacu mereka untuk menuangkan opini dan analisis pasca-pemutaran dalam bentuk tulisan. Kebiasaan menulis ini sengaja dipupuk sebagai stimulasi berpikir kritis demi menciptakan iklim pendidikan yang lebih berkualitas.(*)
[DD Maulana Yusuf]














