InfoPresisi, Metro – Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR-PMI) UIN Jurai Siwo Lampung (Jusila) menggelar Pendidikan Dasar (Diksar) bagi mahasiswa calon relawan, Minggu, 27/9/2026.
Kegiatan ini dilaksanakan untuk membentuk karakter, membangun jiwa kepemimpinan, sekaligus meningkatkan kapasitas dan keterampilan teknis para calon relawan sebelum terjun ke medan kemanusiaan.

Tidak sekadar dibekali keterampilan praktis seperti Pertolongan Pertama (PP) dan Perawatan Keluarga (PK), para peserta juga dibekali pemahaman mendalam mengenai manajemen kerja. Salah satu materi krusial yang diberikan dalam rangkaian Diksar ini adalah “Kepemimpinan, Manajemen, dan Organisasi”.
Materi tersebut disampaikan langsung oleh Rahmat Apriyan, S.Pd., Demisioner Sekretaris Umum KSR-PMI Periode 2024–2025. Dalam paparannya, Rahmat mengajak peserta memahami bahwa modal dasar seorang relawan tidak cukup hanya berbekal niat baik.
“Dalam situasi darurat, relawan dituntut mampu mengambil keputusan cepat, membagi tugas secara efektif, mengelola sumber daya, serta bertanggung jawab penuh atas amanah yang diemban,” ujarnya.
Rahmat mengawali materi dengan membedah perbedaan mendasar antara tiga konsep utama: pemimpin, pimpinan, dan kepemimpinan. Menurutnya, pemimpin adalah sosok yang mampu memberikan arah dan menggerakkan orang lain, sedangkan pimpinan merujuk pada individu yang memegang jabatan atau otoritas formal dalam organisasi.
Sementara itu, kepemimpinan merupakan sebuah proses dan kemampuan interpersonal untuk memengaruhi sekaligus mengarahkan orang lain demi mencapai tujuan bersama. Ia menekankan, jabatan formal tidak otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin sejati.
“Jabatan memberikan kewenangan, tetapi keteladananlah yang membangun kepercayaan,” tegas Rahmat di hadapan para peserta.
Selain konsep kepemimpinan, peserta juga diperkenalkan dengan dasar-dasar manajemen melalui prinsip POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Konsep ini dikupas melalui analogi dunia kerelawanan, mulai dari perencanaan aksi kemanusiaan, pembagian tugas di lapangan, pelaksanaan program, hingga tahap pengawasan dan evaluasi. Melalui materi ini, organisasi diposisikan sebagai wadah kolaborasi tempat setiap anggota saling mengikatkan diri dalam peran dan tanggung jawab yang saling berkaitan.
Rahmat merangkum esensi materi tersebut dalam sebuah formula filosofis:
“Organisasi memberikan wadah. Kepemimpinan memberikan arah. Manajemen membuat pekerjaan menjadi teratur. Dan tanggung jawab membuat semuanya memiliki makna.”
Memasuki sesi akhir, suasana mendadak khidmat saat pemateri mengajak peserta melakukan refleksi batin. Peserta diminta mengheningkan cipta sejenak guna membayangkan diri mereka kelak terpilih mengemban amanah sebagai seorang ketua.
Mereka diajak bertanya pada diri sendiri: “Jika suatu hari saya menjadi ketua, apakah saya sudah siap memikul amanah tersebut?”
Refleksi ini menampar kesadaran peserta bahwa menjadi ketua bukan soal strata sosial tertinggi atau hak memberikan perintah. Menjadi ketua adalah ujian kesiapan mental dalam menghadapi anggota yang melakukan kesalahan, merangkul mereka yang mulai lelah, tetap rendah hati saat organisasi berhasil, dan menjadi orang pertama yang pasang badan mengambil tanggung jawab penuh ketika organisasi menghadapi kegagalan.
Sesi materi ini ditutup dengan pesan persuasif agar para kader tidak hanya terampil secara fisik, tetapi juga menjadi pribadi yang dapat dipercaya, solutif, dan konsisten dalam mengabdi.
“Jadilah orang yang ketika dibutuhkan, mau hadir. Ketika tim membutuhkan, bantu. Ketika ada masalah, berpikir. Ketika pekerjaan berat, jangan lari. Dan ketika diberi amanah, bertanggung jawab,” pesan Rahmat.
Melalui penyelenggaraan Diksar ini, KSR-PMI berharap dapat melahirkan generator relawan muda yang tidak hanya andal secara taktis, tetapi juga kaya akan semangat kemanusiaan. Sebab pada akhirnya, KSR bukan sekadar tentang seragam, tandu, ataupun kotak P3K, melainkan manifestasi nyata dari nilai-nilai kemanusiaan.
Menutup orasinya, Rahmat Apriyan menitipkan pesan pamungkas yang membakar semangat para peserta: “Mari menjadi relawan yang bersyukur, ikhlas, serta yakin dengan usahanya. Insyaallah, kita akan sampai pada waktunya.”
[Kiki Anggi]














