Menu

Dark Mode
Kontroversi Menjadi Peluang: Fenomena Larisnya Kaus One Piece di Kota Metro Perspektif Psikologi Terapan Akhir Kehidupan dan Jejak Identitas Diri: Wafat saat Beribadah Perspektif Psikologi Terapan Peringati 30 Tahum Tragedi Kudatuli, Ria Hartini Ingatkan Makna Perjuangan Demokrasi Ekologi Pengasuhan: Jalan Sunyi Menuju Indonesia Emas Penyadaran Keberterimaan Peserta Didik atas Pembatasan Gawai Perspektif Psikologi Terapan Hantam Kepala Rekan Pakai Balok Kayu, Pria Asal Bandar Lampung Ditangkap Polisi

Opini

Kontroversi Menjadi Peluang: Fenomena Larisnya Kaus One Piece di Kota Metro Perspektif Psikologi Terapan

badge-check


					Kontroversi Menjadi Peluang: Fenomena Larisnya Kaus One Piece di Kota Metro Perspektif Psikologi Terapan Perbesar

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., M.A.
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

Pada dunia bisnis, tidak semua peluang lahir dari inovasi produk. Sebagian justru muncul dari dinamika sosial yang sedang menjadi perhatian publik. Fenomena tersebut terlihat pada meningkatnya penjualan kaus bergambar One Piece di Kota Metro, beberapa waktu lalu.

Seorang pedagang mengaku penjualannya meningkat tajam, setelah segala hal bernuansa film animasi One Piece ramai diperbincangkan di media sosial sebagai bagian dari kontroversi dan ekspresi kritik sosial. Menurut pengakuannya, selain melihat peluang bisnis, tingginya minat masyarakat juga dipengaruhi oleh besarnya perhatian publik terhadap isu tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku konsumen tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas produk, harga, atau promosi. Perhatian kolektif masyarakat, identitas kelompok, serta makna psikologis yang melekat pada suatu simbol mampu mengubah barang biasa menjadi komoditas yang sangat diminati.

Dalam perspektif psikologi terapan, menarik untuk dipahami mengapa sebuah simbol budaya populer dapat berubah menjadi identitas sosial sekaligus menciptakan peluang ekonomi. Jawabannya terletak pada cara manusia membangun makna, mengikuti kelompok sosial, dan mengekspresikan identitas dirinya.

Simbol Menjadi Sangat Bernilai
Salah satu penjelasan psikologi modern berasal dari “Social Identity Theory” yang terus dikembangkan dalam berbagai penelitian kontemporer. Haslam, Jetten, Cruwys, Dingle, dan Haslam (2018) menjelaskan bahwa manusia secara alami membentuk identitas melalui keanggotaannya dalam kelompok sosial.

Individu cenderung menggunakan simbol, pakaian, logo, maupun atribut tertentu sebagai sarana menunjukkan identitas dan rasa memiliki terhadap komunitas tertentu. Pada konteks fenomena One Piece, kaus bukan lagi sekadar pakaian. Ia berubah menjadi media komunikasi sosial yang menyampaikan pesan mengenai minat, solidaritas, bahkan cara seseorang memandang isu-isu yang sedang berkembang. Ketika banyak orang mengenakan simbol yang sama, terbentuklah rasa kebersamaan (shared identity) yang memperkuat keterikatan psikologis antarpenggunanya.

Penelitian Oyserman (2017) mengenai “Identity-Based Motivation Theory” menjelaskan bahwa seseorang lebih terdorong memilih suatu tindakan apabila tindakan tersebut dianggap sesuai dengan identitas dirinya.

Oleh karena itu, keputusan membeli kaus One Piece tidak selalu didorong oleh kebutuhan berpakaian, tetapi juga oleh keinginan menampilkan identitas tertentu di ruang publik. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa nilai psikologis sebuah produk sering kali lebih besar daripada nilai materialnya. Ketika sebuah simbol dianggap mewakili kebebasan, kreativitas, atau keberanian menyuarakan aspirasi, maka daya tariknya akan meningkat secara signifikan.

Menurut perspektif Islam, aktivitas ekonomi tetap diarahkan pada kemaslahatan.

Allah Swt. berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashash: 77).

Ayat tersebut mengajarkan bahwa kreativitas dalam menangkap peluang ekonomi merupakan hal yang dibenarkan, selama tetap dilandasi tanggung jawab moral, kejujuran, dan kemanfaatan bagi masyarakat.

Viralitas, Emosi Kolektif, dan Perilaku Konsumen
Media sosial telah mengubah cara masyarakat mengambil keputusan. Informasi yang viral tidak hanya membentuk opini publik, tetapi juga memengaruhi perilaku ekonomi. Jonah Berger (2020) dalam “The Catalyst” menjelaskan bahwa penyebaran ide dan perilaku sosial dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti emosi, identitas kelompok, dan pengaruh sosial. Semakin tinggi intensitas pembicaraan publik terhadap suatu isu, semakin besar pula kemungkinan masyarakat memperhatikan simbol yang berkaitan dengan isu tersebut.

Pada sisi lain, Ariely (2018) menjelaskan bahwa keputusan konsumen sering kali tidak sepenuhnya rasional. Individu lebih mudah tertarik pada produk yang sedang menjadi pusat perhatian karena adanya efek “social proof”, yaitu kecenderungan menganggap sesuatu bernilai ketika banyak orang membicarakan atau menggunakannya.

Fenomena yang terjadi di Kota Metro memperlihatkan bagaimana viralitas di ruang digital mampu menghasilkan dampak ekonomi nyata. Pedagang yang peka membaca perubahan psikologi pasar dapat memanfaatkan momentum tersebut menjadi peluang usaha.

Dalam psikologi kewirausahaan, kemampuan membaca perubahan perilaku konsumen merupakan bentuk “opportunity recognition”, yaitu kemampuan mengenali peluang sebelum disadari oleh banyak orang.

Namun demikian, keberhasilan bisnis yang lahir dari momentum kontroversi tetap memerlukan tanggung jawab sosial. Pelaku usaha perlu menjaga agar aktivitas ekonomi tidak memperkeruh polarisasi, melainkan tetap menghormati keberagaman pandangan masyarakat.

Akhirnya, penting untuk dipahami bahwa fenomena meningkatnya penjualan kaus One Piece di Kota Metro menunjukkan bahwa perilaku konsumen pada era digital semakin dipengaruhi oleh faktor psikologis dibandingkan sekadar pertimbangan fungsional.

Simbol budaya populer dapat berubah menjadi identitas sosial, media ekspresi, sekaligus komoditas ekonomi ketika memperoleh perhatian luas dari masyarakat. Psikologi terapan mengajarkan bahwa manusia membeli bukan hanya karena membutuhkan suatu barang, tetapi juga karena ingin memperoleh makna, menunjukkan identitas, serta menjadi bagian dari kelompok yang dianggap penting.

Viralitas media sosial mempercepat proses tersebut melalui pembentukan emosi kolektif dan pengaruh sosial yang sangat kuat. Bagi pelaku usaha, fenomena ini menjadi pelajaran bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan oleh modal finansial, tetapi juga oleh kemampuan memahami psikologi konsumen.

Sementara bagi masyarakat, fenomena ini mengingatkan bahwa setiap simbol dapat dimaknai secara berbeda oleh setiap individu. Oleh karena itu, dialog, kedewasaan, dan sikap saling menghormati tetap diperlukan agar ruang publik menjadi tempat bertemunya berbagai ekspresi tanpa kehilangan semangat persatuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Akhir Kehidupan dan Jejak Identitas Diri: Wafat saat Beribadah Perspektif Psikologi Terapan

4 August 2026 - 11:05 WIB

Ekologi Pengasuhan: Jalan Sunyi Menuju Indonesia Emas

23 July 2026 - 04:01 WIB

Penyadaran Keberterimaan Peserta Didik atas Pembatasan Gawai Perspektif Psikologi Terapan

22 July 2026 - 07:12 WIB

Kampus di Persimpangan Nilai: Ketika Keheningan Menjadi Cermin Tanggung Jawab Akademik

11 July 2026 - 07:54 WIB

Ketika Dosen Tidak Meluluskan: Independensi Akademik Bukan Sikap Mempersulit Mahasiswa

25 June 2026 - 14:24 WIB

Trending on Opini