Menu

Dark Mode
Akhir Kehidupan dan Jejak Identitas Diri: Wafat saat Beribadah Perspektif Psikologi Terapan Peringati 30 Tahum Tragedi Kudatuli, Ria Hartini Ingatkan Makna Perjuangan Demokrasi Ekologi Pengasuhan: Jalan Sunyi Menuju Indonesia Emas Penyadaran Keberterimaan Peserta Didik atas Pembatasan Gawai Perspektif Psikologi Terapan Hantam Kepala Rekan Pakai Balok Kayu, Pria Asal Bandar Lampung Ditangkap Polisi Fraksi PDI Perjuangan Sorot Banjir Way Perak, Desak Pemkot Metro Evaluasi Dinas PUTR

Opini

Akhir Kehidupan dan Jejak Identitas Diri: Wafat saat Beribadah Perspektif Psikologi Terapan

badge-check


					Akhir Kehidupan dan Jejak Identitas Diri: Wafat saat Beribadah Perspektif Psikologi Terapan Perbesar

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., M.A.
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

Kematian selalu menjadi peristiwa yang menghentikan langkah manusia sekaligus menggerakkan pikirannya. Tidak hanya keluarga yang berduka, masyarakat pun hampir selalu berusaha mencari makna di balik sebuah kematian.

Fenomena tersebut kembali terlihat ketika publik menyaksikan seorang pendakwah, Ustadz Ahmad Firdaus bin H. Rohili, wafat saat sedang menyampaikan tausiah di hadapan jamaah. Peristiwa yang terjadi di Kampung Sumur, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Kamis, 30 Juli 2026 lalu segera mengundang ribuan doa dan ungkapan haru. Banyak masyarakat memandangnya sebagai gambaran husnul khatimah karena beliau mengembuskan napas terakhir ketika sedang mengajak manusia mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Terlepas dari penilaian teologis yang sepenuhnya menjadi hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala, peristiwa tersebut menarik ditelaah melalui perspektif psikologi terapan. Mengapa masyarakat memberikan penghormatan yang begitu besar kepada seseorang yang wafat ketika menjalankan amal saleh? Mengapa aktivitas terakhir seseorang mampu membentuk cara masyarakat mengenangnya?

Psikologi kontemporer menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk menemukan makna hidup, membangun identitas moral, serta meninggalkan warisan nilai (legacy) yang tetap hidup setelah dirinya tiada.

Makna Hidup sebagai Kebutuhan Psikologis
Salah satu perkembangan penting psikologi positif adalah konsep Meaning in Life yang dikembangkan oleh Michael F. Steger (2009; 2012). Steger menjelaskan, kesejahteraan psikologis tidak hanya ditentukan oleh kebahagiaan, tetapi juga oleh sejauh mana seseorang merasakan hidupnya memiliki tujuan (purpose), arti (meaning), dan kontribusi bagi orang lain.

Menurut Steger, manusia memiliki dua kebutuhan utama, yaitu presence of meaning, yakni keyakinan bahwa hidupnya bermakna, dan search for meaning, yaitu upaya terus-menerus mencari makna hidup.

Ketika seseorang wafat saat sedang berdakwah, mengajar Al-Quran, menolong sesama, atau menjalankan ibadah, masyarakat cenderung memaknai kematian tersebut sebagai akhir dari kehidupan yang konsisten dengan tujuan hidupnya.

Aktivitas terakhir bukan sekadar sebuah kejadian, tetapi menjadi simbol dari makna kehidupan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Dalam psikologi terapan, persepsi tersebut memperlihatkan bahwa manusia lebih mudah menghargai kehidupan yang memiliki arah dan tujuan dibanding kehidupan yang tidak menunjukkan kontribusi sosial yang jelas.

Identitas Diri Dibangun melalui Narasi Kehidupan
Psikologi modern juga menjelaskan bahwa identitas seseorang dibentuk melalui kisah hidup yang disusunnya sendiri. Dan P. McAdams (2001; 2008; 2013) melalui Narrative Identity Theory menyatakan, bahwa individu memahami dirinya sebagai sebuah cerita yang terus berkembang. Kehidupan dipandang sebagai rangkaian pengalaman yang membentuk identitas pribadi. Aktivitas yang dilakukan secara berulang mengajar, berdakwah, melayani masyarakat, merawat keluarga, atau membantu sesama menjadi bagian dari narasi tersebut.

Oleh karena itu, ketika seseorang wafat saat sedang melakukan aktivitas yang selama ini menjadi ciri kehidupannya, masyarakat melihat adanya kesinambungan antara perjalanan hidup dan akhir kehidupannya. Sebaliknya, apabila seseorang meninggal ketika sedang melakukan tindakan kriminal, penyalahgunaan narkoba, perjudian, atau kemaksiatan lainnya, narasi yang terbentuk di mata masyarakat juga berbeda.

Aktivitas terakhir sering dipandang sebagai representasi dari pola kehidupan yang telah dijalani. Dengan demikian, kematian bukan hanya mengakhiri kehidupan biologis, tetapi juga menutup sebuah narasi identitas yang telah dibangun sepanjang hidup.

Kesadaran akan Kematian Menguatkan Nilai-Nilai Moral
Penjelasan lain datang dari Terror Management Theory yang dikembangkan oleh Tom Pyszczynski, Jeff Greenberg, dan Sheldon Solomon serta diperbarui dalam berbagai penelitian setelah tahun 2000 (Pyszczynski et al., 2015). Teori ini menjelaskan bahwa kesadaran manusia terhadap kematian (mortality awareness) mendorong individu untuk mencari rasa aman melalui nilai-nilai budaya, agama, dan moral.

Ketika masyarakat menyaksikan seseorang wafat saat berdakwah atau beribadah, kesadaran akan kematian mereka ikut meningkat. Respons psikologis yang muncul biasanya berupa refleksi diri: “Bagaimana jika saya meninggal hari ini?” atau “Apa yang akan dikenang dari kehidupan saya?”.

Refleksi tersebut membuat masyarakat semakin menghargai perilaku yang dipandang sesuai dengan nilai-nilai agama. Peristiwa kematian akhirnya menjadi pengingat kolektif tentang pentingnya menjalani kehidupan yang bernilai.

Identitas Moral dan Warisan Kehidupan
Penelitian Aquino dan Reed (2002) mengenai Moral Identity Theory menunjukkan bahwa individu yang menjadikan nilai-nilai moral sebagai bagian inti identitas dirinya cenderung menunjukkan perilaku prososial secara konsisten.

Dalam konteks ini, dakwah, sedekah, pelayanan sosial, pendidikan, dan pengabdian masyarakat bukan hanya aktivitas sesaat, melainkan ekspresi identitas moral yang telah tertanam dalam diri seseorang.

Pandangan tersebut diperkuat oleh kajian McAdams (2013) mengenai generativity, yaitu dorongan untuk meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.

Warisan tersebut tidak selalu berupa harta, melainkan ilmu, keteladanan, nilai-nilai, serta inspirasi yang tetap hidup setelah seseorang meninggal dunia. Karena itu, masyarakat sering mengenang seorang guru melalui murid-muridnya, seorang ulama melalui dakwahnya, seorang dokter melalui pengabdiannya, dan seorang relawan melalui pertolongannya kepada sesama.

Istiqamah Melahirkan Akhir Kehidupan yang Baik
Psikologi menjelaskan bagaimana manusia membangun identitas dan makna hidup. Islam memberikan arah bahwa makna tertinggi kehidupan adalah beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata: Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati.” (QS. Fussilat: 30).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa istiqamah merupakan fondasi utama kehidupan seorang mukmin. Aktivitas mulia ketika ajal datang merupakan buah dari kebiasaan baik yang dilakukan secara terus-menerus.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari).
Dalam hadis lain beliau bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa akhir kehidupan yang baik bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari konsistensi menjalankan amal saleh sepanjang hidup.

Membangun Jejak Identitas melalui Amal Saleh
Self-Determination Theory yang dikembangkan oleh Ryan dan Deci (2000; Ryan & Deci, 2020) menjelaskan bahwa manusia mencapai kesejahteraan psikologis ketika hidupnya dijalani secara autentik, memiliki tujuan, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Kehidupan yang diarahkan oleh nilai-nilai intrinsik lebih mampu menghasilkan kepuasan batin dibandingkan orientasi pada popularitas atau keuntungan materi. Dalam perspektif Islam, orientasi tersebut sejalan dengan konsep ikhlas dan istiqamah. Setiap amal saleh yang dilakukan secara konsisten membentuk identitas diri, memperkuat karakter, sekaligus meninggalkan jejak yang akan dikenang masyarakat.

Pelajaran terbesar dari wafatnya seseorang ketika sedang menjalankan amal saleh bukanlah memastikan bahwa ia telah memperoleh husnul khatimah, karena hal tersebut merupakan hak prerogatif Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hikmah yang dapat diambil adalah bahwa kebiasaan hidup seseorang sangat mungkin memengaruhi situasi yang mengiringi akhir kehidupannya. Kehidupan yang dipenuhi amal saleh akan lebih besar peluangnya berakhir dalam aktivitas yang bernilai kebaikan.

Akhirnya, penting untuk dipahami bahwa kematian bukan sekadar akhir kehidupan biologis, tetapi juga momen ketika keseluruhan perjalanan hidup memperoleh makna di mata manusia.

Psikologi kontemporer menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk membangun kehidupan yang bermakna (Steger, 2009), menyusun identitas melalui narasi hidup (McAdams, 2013), mempertahankan nilai-nilai moral ketika menyadari kematian (Pyszczynski et al., 2015), serta meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi berikutnya (McAdams, 2013).

Sementara itu, Ryan dan Deci (2020) menunjukkan bahwa kehidupan yang diarahkan oleh nilai-nilai intrinsik akan menghasilkan kesejahteraan psikologis yang lebih mendalam. Islam melengkapi perspektif tersebut dengan mengajarkan bahwa kehidupan yang bermakna tidak hanya diukur dari bagaimana manusia dikenang oleh sesamanya, tetapi juga dari bagaimana ia dinilai di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Oleh karena itu, wafat ketika sedang menjalankan amal saleh hendaknya menjadi pengingat bagi setiap Muslim untuk membangun identitas melalui amal yang ikhlas, menjaga istiqamah, dan mengisi setiap fase kehidupan dengan kebaikan. Sebab pada akhirnya, setiap manusia akan meninggalkan dunia, tetapi tidak setiap manusia meninggalkan jejak kehidupan yang penuh makna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Ekologi Pengasuhan: Jalan Sunyi Menuju Indonesia Emas

23 July 2026 - 04:01 WIB

Penyadaran Keberterimaan Peserta Didik atas Pembatasan Gawai Perspektif Psikologi Terapan

22 July 2026 - 07:12 WIB

Kampus di Persimpangan Nilai: Ketika Keheningan Menjadi Cermin Tanggung Jawab Akademik

11 July 2026 - 07:54 WIB

Ketika Dosen Tidak Meluluskan: Independensi Akademik Bukan Sikap Mempersulit Mahasiswa

25 June 2026 - 14:24 WIB

Misteri ; Ada Kekuatan Besar Menggoyang Singgasana Prabowo-Gibran?

18 June 2026 - 06:55 WIB

Trending on Opini