Menu

Dark Mode
Resmikan Alih Status UIN Jusila, Menag Nasaruddin Umar: Transformasi Harus Diikuti Perluasan Rumpun Ilmu Hadiri Pengukuhan 5 Profesor UIN Jusila, Ria Hartini: Wawasan dan Pengetahuan adalah Fondasi Kebijakan Sesudah Menjadi Guru Besar Teknisi Repaint Kendaraan Ditangkap Karena Diduga Menipu, Polisi Juga Temukan Sabu Dana Pusat Rp24,66 Miliar Turun ke Metro, Pemkot Bakal Alokasikan ke Layanan Publik Kunjungi Lansia, Ria Hartini dan IKAD Kota Metro Beri Bantuan dan Dukungan Morel

Opini

Sesudah Menjadi Guru Besar

badge-check


					Sesudah Menjadi Guru Besar Perbesar

“Lima Profesor, Satu Pertanyaan tentang Masa Depan Ilmu”

Oleh: Hotman,
Akdemisi UIN Jurai Siwo Lampung

Hari ini, lima Guru Besar dikukuhkan di Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung. Tepuk tangan bergema, toga dikenakan, foto bersama diabadikan, dan ucapan selamat mengalir. Sebuah perjalanan akademik yang panjang akhirnya sampai pada satu titik yang sering disebut sebagai puncak karier.

Tetapi, barangkali justru di situlah pertanyaan yang lebih penting dimulai: sesudah menjadi Guru Besar, apa yang akan dilakukan dengan ilmu yang telah diperoleh?

Sebab pengukuhan bukanlah garis akhir. Ia adalah permulaan dari amanah yang lebih besar.

Seorang Guru Besar tidak hanya menerima gelar akademik. Ia menerima kepercayaan untuk menjaga marwah ilmu, membimbing generasi, mengembangkan tradisi penelitian, dan menghadirkan pengetahuan yang berguna bagi kehidupan. Karena itu, yang patut dirayakan dari pengukuhan Guru Besar bukan semata-mata bertambahnya jumlah profesor, melainkan kemungkinan lahirnya lebih banyak gagasan yang dapat mengubah masyarakat.

Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika perguruan tinggi memasuki zaman yang berbeda.

Kecerdasan buatan kini mampu mencari informasi dalam hitungan detik, mengolah data, menerjemahkan bahasa, menyusun analisis, bahkan membantu menghasilkan tulisan akademik. Pengetahuan menjadi semakin mudah diperoleh. Tetapi justru karena itulah, kebijaksanaan menjadi semakin mahal.

Mesin dapat menghasilkan jawaban, tetapi tidak memikul tanggung jawab moral atas jawaban tersebut. Mesin dapat mengolah pengetahuan, tetapi tidak menentukan untuk apa pengetahuan itu digunakan. Di sinilah universitas, dan terutama Guru Besar, menemukan kembali alasan mengapa keberadaannya tetap penting.

Universitas bukan sekadar gudang informasi. Ia adalah ruang tempat pengetahuan diuji, diperdebatkan, dipertanggungjawabkan, dan pada akhirnya diarahkan untuk kepentingan manusia.

Ernest L. Boyer pernah memperluas makna keilmuan melalui gagasan scholarship reconsidered. Keilmuan tidak hanya menyangkut penemuan, tetapi juga integrasi pengetahuan, penerapannya bagi masyarakat, dan pewarisannya melalui pendidikan. Dalam kerangka ini, Guru Besar tidak cukup menjadi orang yang paling tinggi jabatan akademiknya. Ia harus menjadi salah satu orang yang paling kuat pengaruh intelektualnya.

Clark Kerr bahkan menggambarkan universitas modern sebagai multiversity—ruang tempat ilmu pengetahuan berjumpa dengan negara, industri, dan masyarakat. Karena itu, profesor ideal bukanlah ilmuwan yang tinggal di menara gading, melainkan intelektual yang mampu membawa pengetahuan keluar dari ruang akademik dan menjadikannya relevan bagi persoalan publik.

Indonesia membutuhkan peran semacam itu.

Global Innovation Index 2025 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-55 dari 139 negara. Posisi ini menunjukkan adanya kemajuan, tetapi sekaligus menyisakan pekerjaan besar. Indonesia berada di peringkat ke-60 dalam innovation inputs dan ke-59 dalam innovation outputs. Bahkan, Indonesia belum memiliki klaster inovasi yang masuk jajaran klaster inovasi teratas dunia.

Data tersebut memberi pesan sederhana: bangsa ini tidak kekurangan orang terdidik, tetapi masih membutuhkan ekosistem yang mampu mengubah pengetahuan menjadi inovasi dan inovasi menjadi kemaslahatan.

Di sinilah Guru Besar seharusnya mengambil posisi.

Profesor tidak boleh berhenti pada publikasi. Publikasi penting, sitasi penting, reputasi akademik penting. Tetapi ilmu tidak boleh selesai di indeks jurnal. Penelitian harus menemukan jalan menuju kebijakan publik, teknologi, pemberdayaan ekonomi, penguatan pendidikan, penyelesaian persoalan sosial, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Lebih dari itu, Guru Besar harus membangun manusia.

Seorang profesor mungkin hanya menulis beberapa buku dan puluhan artikel sepanjang hidupnya. Tetapi jika ia berhasil membentuk puluhan doktor, ratusan mahasiswa, dan melahirkan tradisi berpikir yang terus hidup setelah dirinya tiada, pengaruhnya jauh lebih panjang daripada daftar publikasi yang pernah dimilikinya.

Dalam konteks perguruan tinggi keagamaan Islam, tanggung jawab itu bahkan mempunyai dimensi yang lebih dalam. Ilmu tidak semata-mata untuk memperoleh pengakuan akademik, tetapi merupakan amanah yang harus menghadirkan kemaslahatan.

Perspektif maqasid al-syari’ah mengajarkan bahwa nilai sebuah ikhtiar tidak berhenti pada pencapaian formal, tetapi pada kemampuannya menjaga martabat manusia, menghadirkan keadilan, dan mewujudkan kemanfaatan. Dengan perspektif ini, Guru Besar tidak cukup bertanya, “Berapa banyak artikel yang telah saya tulis?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang berubah karena ilmu yang saya kembangkan?”

Lima Guru Besar yang dikukuhkan UIN Jurai Siwo Lampung hari ini karena itu bukan sekadar lima pencapaian individual. Mereka adalah simbol dari sebuah harapan yang lebih besar: agar perguruan tinggi di daerah pun mampu melahirkan pemimpin-pemimpin intelektual yang kontribusinya menembus batas kampus dan wilayah.

Lampung membutuhkan ilmuwan yang membaca persoalan masyarakatnya. Indonesia membutuhkan profesor yang berani masuk ke ruang-ruang persoalan bangsa. Dunia membutuhkan akademisi yang mampu mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kemanusiaan.

Karena itu, pengukuhan Guru Besar seharusnya tidak berhenti pada seremoni.

Sesudah toga dilepas, pekerjaan sesungguhnya dimulai. Laboratorium kembali dibuka. Buku kembali dibaca. Mahasiswa kembali dibimbing. Penelitian kembali dikerjakan. Pertanyaan-pertanyaan baru harus diajukan. Dan keberanian intelektual harus terus dipelihara.

Sebab gelar Guru Besar pada akhirnya bukanlah tanda bahwa seseorang telah sampai pada puncak. Ia adalah pengingat bahwa semakin tinggi posisi akademik seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya terhadap ilmu dan masyarakat.

Hari ini lima Guru Besar dikukuhkan.
Mereka menerima kehormatan.
Tetapi yang sesungguhnya bertambah bukan kehormatan itu.
Yang bertambah adalah amanah.

Sebab universitas dapat mengukuhkan seseorang sebagai Guru Besar dalam satu hari. Namun sejarah hanya akan mengingat mereka yang mampu membuat ilmunya tetap hidup dalam pikiran mahasiswa, dalam perubahan masyarakat, dalam kebijakan yang lebih adil, dan dalam peradaban yang lebih manusiawi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kontroversi Menjadi Peluang: Fenomena Larisnya Kaus One Piece di Kota Metro Perspektif Psikologi Terapan

5 August 2026 - 03:29 WIB

Akhir Kehidupan dan Jejak Identitas Diri: Wafat saat Beribadah Perspektif Psikologi Terapan

4 August 2026 - 11:05 WIB

Ekologi Pengasuhan: Jalan Sunyi Menuju Indonesia Emas

23 July 2026 - 04:01 WIB

Penyadaran Keberterimaan Peserta Didik atas Pembatasan Gawai Perspektif Psikologi Terapan

22 July 2026 - 07:12 WIB

Kampus di Persimpangan Nilai: Ketika Keheningan Menjadi Cermin Tanggung Jawab Akademik

11 July 2026 - 07:54 WIB

Trending on Opini