Oleh: Kiki Anggi, orang biasa.
Takdir bukanlah seutas tali yang membelenggu pergelangan tangan, melainkan selembar kanvas yang menanti goresan keberanian dari jemari yang terluka. Ketika pintu-pintu besi korporasi tertutup rapat, bumi sesungguhnya sedang membentangkan pelataran baru bagi jiwa yang menolak menyerah.

Teras bersahaja di sebuah rumah yang terletak di bilangan Jalan Kakatua, Hadimulyo Barat, Metro Pusat, Kota Metro, adalah tempat Revo Dinata (35 tahun) duduk menantang takdir.
Tangannya kokoh memegang flame gun, menyemburkan lidah api biru kemerahan untuk melunakkan perekat mika headlamp kendaraan. Di matanya, lampu yang buram bukanlah rongsokan, melainkan sepasang mata kendaraan yang merindukan kembali cahayanya yang hilang ditelan usang.
Dulu, Revo adalah pegawai BUMN di sektor perbankan. Hari-harinya dihabiskan dalam kenyamanan ruang ber-AC dan rutinitas penuh nominal. Namun, badai pandemi Covid-19 datang bagai wabah kegelapan. Fondasi ekonomi goyah, dan Revo menjadi salah satu korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Istana kaca tempatnya bernaung pun hancur berkeping.
“Saya tuh dulunya pegawai BUMN, di perbankan saya. Tapi waktu pandemi covid, saya kena PHK,” kenang Revo sembari membersihkan sisa perekat yang melunak, Kamis, 15/10/2026.
Namun bagi Revo, PHK bukanlah akhir, melainkan pembebasan paksa yang membawanya kembali ke tanah realitas.
Beralih dari depan komputer ke mesin bor dan polisher machine tentu tidak mudah. Ego harus dilipat bersama kemeja kerja yang rapi. Namun, di dalam dadanya, ada lentera yang tak boleh padam: kebahagiaan keluarga kecilnya. Demi mereka, Revo bersedia mengotori tangan dengan oli dan debu bengkel.
“Awalnya pasti sulit menyesuaikan diri karena cukup lama kerja di kantoran. Tapi demi keluarga kan, kerja apa sajalah yang penting dapat uang,” tuturnya tegas.
Bakat alami mengutak-atik kendaraan pribadi kini dipanggil menjadi penyelamat ekonomi.
Tuhan tidak pernah mengambil sesuatu tanpa menyediakan pengganti. Kisah baru ini dimulai ketika kakak iparnya pulang dari Jakarta pada awal 2019 dan merintis usaha servis lampu ini. Revo bergabung sebagai asisten, menyerap ilmu restorasi estetika kendaraan dengan cepat.
Ketika pandemi mereda dan sang kakak ipar kembali ke ibu kota, Revo tidak membiarkan benih usaha itu mati. Ia mengambil alih tongkat estafet dan meneruskan usaha yang mereka rintis bersama di Kota Metro.
Memanfaatkan sisa ruang di pelataran rumah dan garasi, Revo mendirikan Metro Nano Burning. Dia mengubah tempat itu menjadi kuil restorasi cahaya, menyediakan jasa custom lampu, sulam bodi, hingga poles total. Tarif yang ditawarkan pun penuh kearifan; mulai dari Rp150 ribu untuk servis ringan hingga Rp300 ribu sampai Rp500 ribuan untuk tingkat kesulitan yang tinggi.
“Tiap hari itu pasti ada minimal dua atau tiga konsumen yang datang ke sini untuk servis lampu dan macam-macam. Rata-rata mereka adalah pelanggan dari luar daerah, yang kebetulan melihat bengkel kami di sosmed. Lalu, ketika mereka ke Metro, maka mereka menyempatkan diri mampir ke sini,” tukasnya.
Kini, mantan pegawai BUMN itu serius menggeluti dunia otomotif di bengkel reparasi dan variasi miliknya. Dia berharap, suatu saat nanti Metro Nano Burning akan bisa dibuka di toko yang lebih memadai dan bisa menjadi lebih besar dari sekarang.














