InfoPresisi, Metro – Perempuan berperawakan sedang berseragam serba marun, lengkap dengan tas gendong di punggungnya, terlihat turun dari sepeda motor dan bergegas menuju bus yang menunggunya sedari tadi di Halte Ganjaragung, Metro Barat, Kota Metro, Rabu pagi, 20/8/2025.
Iis Sugiarti namanya. Seorang ibu anak dua yang telah belasan tahun mendedikasikan diri, sebagai Guru dan Terapis Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Yayasan Pendidikan Terpadu (YPT) Mata Hati Bandar Lampung.

Meski menetap di Kota Metro, namun ia tidak keberatan saban hari harus melakukan perjalanan pulang-pergi ke Bandar Lampung. Panas-hujan tak digubris, seolah ia telah berdamai dengan cuaca yang selalu berubah-ubah dan terbiasa berpacu dengan waktu.
“Enggak apa kok, ya memang harus dibiasakan. Lagi pula, saya dan suami memang sama-sama suka kerja dan berkomitmen kerja keras di usia produktif. Toh Insya Allah hasilnya juga nanti akan dirasakan oleh anak-anak kami juga,” ucap Iis, sembari membetulkan tepian jilbab yang ia kenakan.
Lama perjalanan Metro-Bandar Lampung ia gunakan untuk mempersiapkan bahan kerja, sedangkan sepanjang waktu pulang ia pakai untuk melepas lelah usai seharian bergelut dengan pekerjaannya. Semua proses itu ia nikmati, dengan niat membantu suami wujudkan mimpi hidup berkecukupan bersama buah hati di masa depan.
“Karena suami juga kerja, jadi enggak bisa antar-jemput terus. Mungkin nanti bakal pulang-pergi naik motor aja bareng teman kantor, supaya bisa memperkecil pengeluaran. Kan bisa lebih hemat ongkos dan lebih singkat juga waktu perjalanannya,” tuturnya.
Selain motif ekonomi, kecintaannya pada murid yang notabenenya adalah anak-anak spesial, membuat ia bersikukuh untuk terus mengabdikan diri sebagai terapis dan enggan meninggalkan profesinya untuk fokus mengurus rumah tangga. Keterbatasan penyandang disabilitas seolah menjadi tanggung jawabnya sebagai terapis dengan predikat Teknisi Perilaku Terverifikasi (TPT).
Perempuan berusia 34 tahun itu menuturkan, semua muridnya dengan berbagai kebutuhan khusus mulai dari gangguan fungsi gerak, disabilitas intelektual, gangguan psikososial, gangguan fungsi indra dan sebagainya, adalah manusia ciptaan tuhan dengan kondisi berbeda.
“Bagi saya, disabilitas itu bukan kekurangan, apalagi aib, melainkan sebuah kondisi yang berbeda. Penyandang disabilitas itu punya hak yang sama dengan semua orang, dan juga berhak mendapatkan perlakuan yang adil, aksesibilitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka, termasuk pendidikan,” jelasnya lirih.
“Pada saatnya nanti, saya pun akan meninggalkan profesi ini. Tapi setidaknya, selama saya masih sanggup bekerja, saya akan berikan yang terbaik untuk murid-murid saya,” tukasnya.
Keterbatasan fisik dan mental bagi anak-anak penyandang disabilitas adalah ketetapan yang tuhan berikan, dan tidak mungkin ditolak. Iis percaya, kondisi tersebut hanya bermakna perbedaan, bukan berarti ketidakmampuan.
Dalam perspektif lain, keberadaan anak-anak istimewa itu mengingatkan kita untuk dapat menghargai setiap perkembangan kecil dan mengapresiasi tiap momen dalam kehidupan.(*)
[Kiki Anggi]








![[Advertorial] Ketua Komisi I DPRD Kota Metro Pastikan Efisiensi Anggaran Berdampak Positif Bagi Masyarakat](https://infopresisi.com/wp-content/uploads/2025/07/Screenshot_20250719_191424_Canva-300x172.jpg)









